WASPADA POLITIK PECAH BELAH PILPRES 2019-2024

Abdul Kadir Karding (Foto : Wahyu TJ)
                 
Jakarta, MediaTiga.Id-  Diskusi politik (Dispol) diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Vox Point Indonesia di Sekretariat Vox Point Indonesia, Sanggar Prathivi Building, Pasar Baru, Jakarta, Kamis (6/12).

Diskusi yang mengangkat tema, “Waspada Politik Pecah Belah Pilpres 2019" ini, menghadirkan pembicara Intan Fitriana Fauzi, S.H, LL.M (TKN Prabowo-Sandi, DPR RI Fraksi PAN),Abdul Kadir Karding (TKN Jokowi-Ma'ruf Amin,(Mantan Sekjen PKB), Sirajuddin Abbas (Direktur Eksekutif SMRC),Ketum Vox Indonesia Yohanes Handoyo Budhisejati Dan Susana Suryani Sarumaha (Waketum DPN Vox Point Indonesia).

Abdul Kadir Karding mengatakan tujuan berpolitik dalam Islam adalah mencari seseorang Pemimpin yang Amanah.

"Dalam Islam itu dijelaskan dengan tegas. Clear. Bahwa pemimpin harus mampu menciptakan keadilan, kesejahteraan dan kemakmuran bagi rakyatnya," kata Abdul Kadir Karding.

Masuknya paham Radikalisme lewat tokoh-tokohnya yang masih bergabung menjadi tim sukses ke salah satu kubu calon presiden menjadi sorotan Abdul Kadir Karding.

"Ini jelas berbahaya dan harus diwaspadai kita bersama. Yang harus kita lakukan adalah dengan melakukan deradikalisasi dan moderatisasi untuk mencegah paham radikal ini menguat ditengah masyarakat bangsa ini," tutur Abdul Kadir Karding.

Narasi Komunis/PKI saat ini dibangun untuk menghakimi Presiden Jokowi dan orang yang percaya isu ini cukup banyak selain isu hoaks lainnya.

"Saya mencatat ada sekitar 12% atau sekitar 20 juta masyarakat Indonesia yang percaya bahwa Pak Jokowi ini PKI. Selain itu ada isu lain bahwa Jokowi juga antek Asing dan Aseng, granny's yang percaya isu ini juga cukup banyak. Jokowi juga dikatakan anti Islam. Padahal yang sebenarnya yang terjadi adalah Ulama yang melanggar hukum. Jadi bukan kriminalisasi Ulama. Kita ini negara hukum, dimana dihadapan hukum semua orang kedudukannya sama termasuk pejabat menteri sekalipun jika bersalah yah harus dihukum," beber Abdul Kadir Karding.

Paham yang muncul dan menguat saat ini adalah tentang Nasionalisme, Anti Globalisasi Nativisme, Protektisme Bisnia dan Anti Imigran terutama oleh Partai Sayap Kanan (Kristen Sayap Kanan) terutama di belahan dunia barat (Amerika Serikat dan Eropah).

"Isu ini yang sedang dimainkan oleh timses salah satu kubu yang akan bertarung di Pilpres 2019. Terutama menggunakan narasi-narasi negatif untuk menyerang lawan politik nya," ungkap Sirajuddin Abbas dari SMRC.

Presiden Jokowi pernah mengemukakan bahwa Pilpres 2019 merupakan pesta rakyat berlangsung dalam suasana gembira. Namun dalam prakteknya pesta demokrasi 5 tahunan itu menurut Susana berlangsung sebaliknya yaitu kecenderung perpecahan anak bangsa.

"Seharusnya pesta demokrasi kita songsong dengan rasa aman tanpa kekhawatiran dan kondisi ketidakwaspadaan. Tapi yang terjadi adalah kegaduhan yang menimbulkan kericuhan dan ketakutan. Untuk kita harus meningkatkan kewaspadaan dengan memperkuat Persatuan dan Kesatuan dalam rangka menjaga NKRI. Selain itu untuk menangkal hoaks yang menyebabkan polarisasi dan pertikaian perlu kesepakatan bersama dalam bentuk rekonsiliasi bangsa," kata Susana. (Wahyu TJ)

No comments